Jumat, 28 Agustus 2015

Materi Bahasa Indonesia Bab VII Kelas XI SMK

BAB 7
MENERAPKAN POLA GILIR DALAM
BERKOMUNIKASI
A. Menggunakan Kata, Bentukan kata, serta Kalimat
yang Santun dalam Berkomunikasi
Dalam berkomunikasi yang baik seseorang dituntut untuk
mempertimbangkan situasi berbicara. Pertimbangan ini memunculkan
bentuk ragam berbahasa. Situasi resmi tentu berbeda dengan situasi tidak
resmi. Pembicaraan pada situasi resmi cenderung menggunakan kata,
bentukan kata, serta ungkapan yang baku. Berbeda dengan ragam tidak
resmi yang digunakan saat santai, saat bergaul, dan dalam suasana akrab
(konsultatif) tidaklah harus menggunakan bentukan kata dan susunan
kalimat yang baku.
Perhatikan contoh berikut!
1. Terima kasih saya ucapkan atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian di
tempat ini dalam rangka memenuhi undangan kami
2. Makasih, ya, atas kedatangan kamu semua pada perayaan hari ulang
tahunku!
3. Thanks berat, ye! Akhirnya, lu pada dateng juga ke sini tuk menuhin
undangan gue.
132 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Kalimat nomor satu sangat berbeda dengan nomor dua dan tiga, baik
pada tataran pilihan kata, bentukan kata maupun susunan gramatikal
kalimatnya. Kalimat nomor satu digunakan dalam situasi resmi, sedangkan
kalimat
kedua dan ketiga dalam bentuk situasi umum atau akrab.
Pada situasi santai atau akrab, seseorang lebih bebas memilih kata dan
bentukannya daripada saat situasi resmi atau formal. Berkomunikasi dalam
kondisi dan situasi apa pun, yang terpenting adalah bisa menciptakan
komunikasi yang efektif dan lancar.
Untuk mencapai komunikasi yang efektif proses penyampaian dan etika
berbahasa yang santun tetap harus diperhatikan. Kata-kata kasar sebaiknya
dihindari. Selain kurang pantas, kata-kata kasar juga menyinggung perasaan
orang lain.
Di samping itu, dalam situasi komunikasi yang terdiri atas dua atau
lebih orang, sikap saling menghargai dan menerapkan pola gilir dengan
memberikan kesempatan berbicara akan menciptakan kelancaran serta
suasana yang lebih nyaman.
B. Memahami Pola Gilir dalam Berkomunikasi
Pemahaman terhadap pola gilir sangat penting dalam keberhasilan
berkomunikasi. Komunikasi harus berjalan dua arah (ada yang mendengarkan
dan ada yang berbicara). Dengan adanya pola gilir diharapkan
komunikasi akan seimbang dan berjalan lancar karena adanya proses
pergantian bicara sesuai topik pembicaraan atau sesuai keperluan.
Beberapa sikap yang harus dimiliki ketika menerapkan pola gilir dalam
berkomunikasi antara lain seperti berikut
1. Menghargai mitra bicara.
Dalam kegiatan berkomunikasi, kita tidak boleh meremehkan lawan
bicara, bagaimanapun keadaan lawan bicara tetap kita hormati dan
hargai.
2. Peka terhadap kesempatan
Dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan, sering terjadi dominasi
satu pihak saat bicara terhadap pihak lain. Kita harus sadar dan
mengetahui kapan saatnya kita bicara dan kapan saatnya kita diam
untuk mendengarkan sehingga proses komunikasi berlangsung lancar
dan nyaman.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 133
3. Sadar akan relevansi pembicaraan.
Komunikasi berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan jika
pembicaraan sesuai dengan permasalahan sehingga tercipta komunikasi
yang efektif dan lancar.
4. Memilih kata yang tepat
Memilih dan menggunakan kata bentukan kata dan ungkapan yang
santun sesuai dengan situasi komunikasi, demi kelangsungan dan
kenyamanan komunikasi. Berkomunikasi dalam kondisi dan situasi
apa pun tetap memperhatikan etika berbahasa yang santun hindari
kata-kata kasar, kurang pantas yang dapat menyinggung perasaan
pihak yang diajak bicara.
C. Penerapan Pola Gilir dalam Berbagai Situasi
Menerapkan pola gilir komunikasi dapat terjadi pada situasi-situasi
berikut.
(1) Suasana kehidupan sehari-hari, seperti di rumah tangga, di sekolah, di
pasar, di kantor , di arisan, dan sanggar.
(2) Diskusi kelompok, seperti di sekolah dan di kampus, kegiatan pramuka,
dan di dunia kerja.
(3) Film atau sinetron
(4) Naskah drama dan pementasan drama
Berikut beberapa contoh penerapan pola gilir dalam berkomunikasi.
1. Penerapan Pola Gilir dalam Diskusi
Diskusi adalah bentuk kegiatan berbicara dalam rangka membahas
sesuatu masalah secara teratur dan terarah. Diskusi bertujuan mencari jalan
keluar, pemecahan masalah, membuat keputusan, atau simpulan. Untuk
dapat memahami pola gilir berkomunikasi dalam satu diskusi, kita harus
memahami lebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan diskusi. Hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan diskusi, antara lain sebagai berikut.
a. Unsur-Unsur Diskusi
Unsur-unsur yang terlibat dalam diskusi, adalah sebgai berikut.
(1) Pemimpin/Moderator, bertugas merencanakan dan memper134
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
siapkan dengan teliti topik diskusi, membuka diskusi, mengatur
jalannya diskusi, serta menutup diskusi.
(2) Sekretaris, bertugas mencatat jalannya diskusi, masalah-masalah
yang dilakukan peserta, saran maupun jawaban penyaji dari awal
sampai akhir.
(3) Penyaji/pemakalah/pemrasaran, bertugas menyampaikan pembahasan
dengan sistematis, mudah dipahami, tidak menyinggung
peserta, terbuka, dan bersikap objektif dalam meninjau suatu
persoalan.
(4) Peserta diskusi, bertugas menanggapi, memberi masukan, dan
lain-lain.
b. Jenis-jenis diskusi
Berdasarkan ruang lingkupnya, diskusi dibedakan seperti berikut.
(1) Diskusi kelompok, adalah jenis diskusi yang biasa dilakukan di
dalam kelas untuk membahas suatu masalah.
(2) Diskusi panel, adalah diskusi yang dilakukan oleh sekelompok orang
(yang disebut panel) yang membahas suatu topik yang menjadi
perhatian umum di hadapan khalayak/pendengar,penonton.
Khalayak diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan
pendapat.
(3) Seminar, adalah pertemuan untuk membahas suatu masalah di
bawah pimpinan ahli (misalnya guru besar atau pakar)
(4) Simposium, adalah pertemuan dengan beberapa pembicara yang
mengemukakan pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang
beberapa aspek dari topik yang sama.
(5) Kongres, adalah pertemuan wakil organisasi untuk mendiskusikan
dan mengambil keputuan mengenai pelbagai masalah.
(6) Konferensi adalah rapat atau pertemuan untuk berunding atau
bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
(7) Lokakarya adalah pertemuan antara para ahli atau pakar untuk
membahas masalah praktis atau yang bersangkutan dengan
pelaksanaan di bidang keahliannya.
(8) Sarasehan adalah pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan
pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang
tertentu.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 135
c. Teknik dan Tahapan dalam diskusi
Teknik diskusi berkaitan dengan bentuk dan jenis diskusi. Untuk
tatanan sekolah, bentuk diskusi cukup bersifat umum dan sederhana.
Susunan tempat duduk dalam diskusi dapat dilihat pada skema berikut.
X
- 85 -
f. Konferensi adalah rapat atau pertemuan untuk berunding dan bertukar pendapat atau
pertemuan untuk berunding mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
g. Lokakarya adalah pertemuan antara para ahli atau pakar untuk menghasilkan atau
memutuskan suatu modul, pendapat atau karya bersama.
h. Sarasehan adalah pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para
ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu.
3). Teknik dan Tahapan dalam diskusi
Teknik diskusi berkaitan dengan bentuk dan jenis diskusi. Untuk tatanan sekolah
bentuk diskusi cukup bersifat umum dan sederhana. Susunan tempat duduk dalam diskusi
dapat dilihat pada skema tersebut:
Ada dua tahap dalam pelaksanaan diskusi, yaitu tahap persiapan dan
tahap pelaksanaan atau penampilan.
1) Tahapan Persiapan
a. Tahap persiapan dilaksanakan dengan tujuan memperoleh
kesepakatan mengenai hal yang akan dibicarakan.
b. Membagikan tugas kepada para calon pembicara atau penyaji jika
pembicara lebih dari satu.
2) Tahap Pelaksanaan
Ada empat tahap yang harus dilalui dalam pelaksanaan diskusi.
a) Pembukaan
Pimpinan diskusi mengemukakan pokok masalah yang akan
disampaikan dan memperkenalkan calon pembicara.
Contoh ucapan moderator:
1. Dalam diskusi kali ini, kita akan membicarakan ....
2. Marilah kita buka diskusi ini dengan membaca/berdoa ....
3. Saya perkenalkan pembicara dalam diskusi ini ialah Saudara
... notulis Saudara ....
b) Pelaksanaan diskusi
Pemimpin diskusi mempersilakan para pembicara menyampaikan
pandangannya. Selanjutnya sanggahan atau dukungan dari
pembicara disampaikan sesuai dengan aturan yang telah disepakati.
136 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Contoh ucapan moderator:
1. Saya persilahkan Sdr ... menyajikan makalahnya.
Contoh Ucapan penyaji :
1. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan moderator
kepada saya untuk ....
c) Acara tanya jawab
Pemimpin diskusi mempersilakan para pendengar/peserta mengajukan
pertanyaan kepada pembicara dipandu oleh pemimpin
diskusi, pembicara/penyaji.
Contoh ucapan moderator:
1. Saya beri kesempatan 3 orang peserta mengajukan pertanyaan,
pendapat atau tanggapannya.
2. Penanya pertama silakan ....
3. Penyaji silahkan memberikan jawaban atau tanggapan balik
(peserta yang mengacungkan jari lebih dahulu yang diberikan
kesempatan pertama dan bergilir selanjutnya)
Contoh ucapan peserta :
1. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan moderator.
Pertanyaan saya yaitu ....
2. Tadi saudara pembicara menjelaskan ... menurut pendapat
saya ....
3. Saya mohon kepada pembicara pertama untuk menjelaskan
....
4. ... demikian usulan dari saya.
Contoh ucapan penyaji:
1. Terima kasih atas pertanyaan Saudara ... dan jawaban saya
sebagai berikut .....
2. Terima kasih atas tanggapan Saudara ..... tentang ....
d) Penutup
Pembacaan simpulan pembahasan diskusi yang telah berlangsung
oleh pemimpin diskusi.
2. Penerapan Pola Gilir dalam Pementasan Drama
Naskah drama dipersiapkan sebelum drama diperankan atau
dipentaskan. Naskah drama adalah cerita yang ditulis dalam bentuk dialog
disertai gerak-gerik dan tingkah laku para tokoh dalam drama.
Dalam sebuah drama, kedudukan pelaku sangat penting. Untuk
mementaskan sebuah drama, seorang pemain harus memahami isi
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 137
drama termasuk proses dialog. Dalam dialog, telah diatur penggiliran
pembicaraan diantara para tokoh. Setiap tokoh telah diatur kapan saat
menjawab, menanggapi, merespons tokoh lainnya. Meskipun unsur spontan
(improvisasi) ada dalam dialog drama, namun tokoh yang berimprovisasi
tetap harus memerhatikan dengan cermat saat melakukan improvisasi
dialog agar tidak bertabrakan dengan perkataan tokoh lain.
Beberapa hal yang harus diperhatikan jika memerankan tokoh dalam
drama adalah seperti berikut.
a. Teknik Berdialog
Agar penonton menangkap jalan cerita drama, para pelaku harus
menyampaikan dialog dengan jelas, ucapan harus wajar, tidak
dibuat-buat.
b. Mimik
Mimik merupakan perubahan raut muka, misalnya tersenyum karena
senang, mengerutkan dahi ketika sedang berpikir, atau menegang saat
marah.
c. Intonasi
Intonasi ialah lagu atau irama dalam mengucapkan kalimat. Ada
tekanan keras atau lembut dalam ucapan, tempo, dan tekanan nada
menaik atau menurun.
Contoh naskah drama:
TANGIS
Pentas : Menggambarkan sebuah taman atau halaman.
01. Fani dan Gina sedang menangis, dengan suara yang enak didengar,
dengan komposisi yang sedap dipandang.
02. Hana : (muncul dan tertegun, mendekati kedua temannya)
Ada apa ini? Fani, Gina, mengapa menangis?
Mengapa? Katankanlah, siapa tahu aku dapat membantu.
Ayolah Fani, apa yang terjadi? Ayolah Gina, hentikan sebentar
tangismu!
03. Fani dan Gina tidak menggubris Hana. Mereka terus menangis secara
memilukan.
04. Hana : Ya, Tuhan! Duka macam apakah yang Kaubebankan
138 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
kepada kedua temanku ini? Dan apa yang harus kulakukan
bila aku tidak tahu sama sekali persoalannya semacam ini?
Fani, Gina, sudahlah! Kita memang wanita sejati, tanpa ada
seorang pun yang berani meragukan, dan oleh karena itu
pula, kita juga berhak istimewa untuk menangis. Namun
apa pun persoalannya, tidaklah wajar membiarkan seorang
sahabat kebingungan semacam ini, sementara kalian berdua
menikmati indahnya tangisan dengan enaknya. Ayolah,
hentikan tangisan kalian. Kalau tidak, ini akan kuanggap
sebagai penghinaan yang tidak termaafkan, dan sekaligus
akan mengancam kelangsungan persahabatan kita!”
05. Fani dan Gina tertegun sejenak mendengar kata-kata Hana. Mereka
menghentikan tangis, saling bertatapan, lalu Gina memberikan selembar
kertas kepada Hana. Keduanya meneruskan tangisan mereka.
06. Hana membaca tulisan pada kertas itu. Ia termangu beberapa saat,
geleng-geleng kepala, kemudian ikut menangis pula.
07. Inu : (muncul tergopoh-gopoh)” Ada apa? Ada apa ini, mereka
menganggu lagi? Gila! Mereka memang terlalu! Sudahlah,
aku yang akan menghadapinya! (mencari batu untuk senjata)
Tenanglah kalian. Kita mengakui bahwa kita memang
makhluk lemah (mulai menangis), miskin, bodoh, dan tak
punya daya. Tetapi, itu tidak berarti bahwa kita dapat mereka
hina secara semena-mena. (sambil menangis) berapa kali mereka
melakukannya? Huh, cacing pun mengeliat jika diinjak, apa
lagi kita, manusia! Mungkin kini mereka akan gentar pada
tekad perlawanan kita. Tetapi jangan puas, mereka harus diberi
pelajaran agar tahu benar-benar bahwa kita bukanlah barang
mainan. (Menangis) Baiklah, akan kucari mereka dengan batubatu
di tanganku! (beranjak pergi).
08. Hana : (menahan Inu seraya memberikan selembar kertas)
09. Inu : (menerima kertas itu, membacanya, bengong sesaat, kemudian
geleng-geleng kepala dan tertawa sendiri. Diamatinya temantemannya
satu per satu sambil tersenyum-senyum).
10. Jati : (muncul, heran melihat situasi itu, kemudian marah kepada Inu)
Inu! Kauapakan mereka?
11. Inu : Tenang, Jati. Tidak ada apa-apa!”
12. Jati : Enak saja! Senang, ya, dapat membuat orang lain menangis?
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 139
13. Inu : Hai, bukan aku penyebabnya, Jati!” (tertawa)
14. Jati : Kamu mampu tertawa sementara ketiga sahabatmu menangis
duka. Di mana perasaanmu, Inu?”
15. Inu : Jati, apakah setiap tangis itu duka?”
16. Jati : Tetapi, mereka jelas nampak menderita!”
17. Inu : (tertawa) Tampak menderita tidak sama dengan nyata
menderita!”
18. Jati : Gila! Tidak kusangka! Aku kini tahu mutu pribadimu yang
sesungguhnya, Inu!”
19. Inu : Ampun, Jati! Sabar, Jati ! Nih, coba baca.” (memberikan selembar
kertas).
20 Jati : (dengan segan menerima, kemudian tertegun ketika membacanya)
”Maaf, kami sedang latihan akting menangis, jangan nganggu,
ya!? Trim’s!”
Gila! Sudah! Selesai! Hentikan latihan gila-gilaan ini!”
21. Semua tertawa terbahak-bahak, sementara Jati salah tingkah.
(dikutip dari Buku Kumpulan drama Remaja, berjudul tangis oleh A.Rumadi)
Pola gilir juga dapat dilakukan dalam membawakan acara. Untuk acara
hiburan yang cukup banyak dan panjang, biasanya dipandu oleh dua orang
MC atau pembawa acara. Kedua pembawa acara tersebut saling bergantian
berbicara mengantarkan setiap acara yang akan dipertunjukkan dan
mengomentarinya. Dalam memberikan pengantar atau komentar, dapat
diterapkan pola gilir agar tak terjadi saling ingin bicara dan mendominasi.

Materi Bahasa Indonesia Bab VI Kelas XI SMK

BAB 6
MEMBUAT PARAFRASA LISAN DALAM
KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian Parafrasa
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrasa adalah seperti
berikut.
(1) Pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam
bahasa menjadi macam yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
(2) Penguraian kembali sebuah teks (karangan) dalam bentuk (susunan
kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna
yang tersembunyi.
Parafrasa mengandung arti pengungkapan kembali suatu tuturan atau
karangan menjadi bentuk lain namun tidak mengubah pengertian awal.
Parafrasa tampil dalam bentuk lain dari bentuk aslinya, misalnya sebuah
wacana asli menjadi wacana yang lebih ringkas, bentuk puisi ke prosa,
drama ke prosa, dan sebaliknya. Parafrasa cenderung diuraikan dengan
menggunakan bahasa si pembuat parafrasa bukan diambil dari kalimat
sumber aslinya apalagi membuat parafrasa secara lisan.
Memparafrasakan suatu tuturan atau karangan secara lisan bisa
dilakukan setelah mendengar tuturan lisan atau setelah membaca suatu
naskah tulisan. Hal itu lazim dilakukan oleh orang yang sudah terbiasa
membuat parafrasa. Untuk mereka yang baru dalam taraf belajar, langkah
membuat parafrasa ialah dengan cara meringkasnya terlebih dahulu.
Namun, harus diingat parafrasa disusun dengan bahasa sendiri, bukan
dengan bahasa asli penulis.
B. Cara Membuat Parafrasa
Berikut adalah hal yang perlu dilakukan untuk membuat parafrasa
dari sebuah bacaan.
(1) Bacalah naskah yang akan diparafrasakan sampai selesai untuk
memperoleh gambaran umum isi bacaan/tulisan.
(2) Bacalah naskah sekali lagi dengan memberi tanda pada bagian-bagian
penting dan kata-kata kunci yang terdapat pada bacaan.
(3) Catatlah kalimat inti dan kata-kata kunci secara berurut.
(4) Kembangkan kalimat inti dan kata-kata kunci menjadi gagasan pokok
yang sesuai dengan topik bacaan.
(5) Uraikan kembali gagasan pokok menjadi paragraf yang singkat dengan
bahasa sendiri.
Agar lebih jelas perhatikanlah contoh di bawah ini.
Wacana asli
Masalah-masalah yang dihadapi di bidang pendidikan pada saat akan
dimulainya pelaksanaan Repelita I adalah sangat berat dan mendesak.
Di bidang kurikulum terasa sekali kebutuhan akan pembaharuan agar
sistem pendidikan dapat memenuhi tuntutan pembangunan dan
kemajuan. Di samping itu, terdapat ketidakseimbangan baik di antara
berbagai tingkat pendidikan vertikal maupun di antara berbagai jenis
pendidikan. Jumlah anak yang tidak tertampung di sekolah jauh lebih
besar daripada jumlah anak yang bersekolah. Demikian pula jumlah
anak yang putus sekolah (drop out) adalah jauh lebih besar daripada
mereka yang berhasil menyelesaikan suatu tahap pendidikan.
Sementara itu, tenaga-tenaga yang bekerja di bidang pendidikan
baik teknis maupun administratif sangat kurang jumlahnya. Di
samping itu, mutu keahlian tenaga-tenaga tersebut perlu ditingkatkan.
Prasarana pendidikan seperti gedung dan ruang sekolah sangat tidak
mencukupi. Buku-buku sangat sedikit jumlahnya. Kecuali itu, sedikit
sekali sekolah-sekolah yang mempunyai perpustakaan, alat-alat peraga
ataupun laboratorium dan tempat praktik.
Akhirnya, organisasi dan pengelolaan pendidikan dan kebudayaan
di pusat maupun di daerah belum mencerminkan kerja sama yang serasi.
Demikian
pula belum ada sistem informasi pendidikan untuk keperluan
perencanaan
yang terarah.
Wacana di atas dapat diparafrasakan sebagai berikut.
Banyak masalah berat yang dihadapi pada awal Repelita I:
masalah kurikulum, ketidak-seimbangan tingkat dan jenis pendidikan;
penampungan murid dan masalah putus sekolah; kekurangan tenaga
pendidikan, kurangnya mutu keahlian dan fasilitas; kurangnya kerja
sama dan tiada sistem informasi.
Membuat parafrasa lisan berarti uraian tertulis yang telah dibaca atau
yang telah didengar, diungkapkan kembali secara lisan dengan kalimat
sendiri dengan menerapkan teknik membuat parafrasa sama seperti di
atas.
Teknik membuat parafrasa lisan adalah seperti berikut.
(1) Membaca informasi secara cermat.
(2) Memahami isi informasi secara umum.
(3) Menulis inti atau pokok informasi dengan kalimat sendiri.
(4) Mencatat kalimat pokok atau inti secara urut.
(5) Mengembangkan kalimat inti atau kata-kata kunci menjadi pokokpokok
pikiran yang sesuai dengan tema/topik informasi sumber.
(6) Menyampaikan atau menguraikan secara lisan pokok pikiran tersebut
dengan menggunakan kata atau kalimat sendiri.
(7) Jika kesulitan menguraikannya, hal di bawah ini dapat membantu:
(a) Gunakan kata-kata yang bersinonim dengan kata aslinya.
(b) Gunakan ungkapan yang sepadan jika terdapat ungkapan untuk
membedakan dengan uraian aslinya.
(c) Ubahlah kalimat langsung menjadi tidak langsung atau kalimat
aktif menjadi pasif.
(d) Jika berbentuk narasi, bisa menggunakan kata ganti orang ketiga.
C. Memparafrasakan Puisi Menjadi Prosa
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang bentuknya tidak sama
dengan prosa atau karangan biasa. Puisi terbagi ke dalam larik-larik
atau bait. Pada puisi banyak terdapat kata-kata yang bermakna kias atau
konotasi. Oleh karena itu, isi atau tema puisi biasanya tersirat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memparafrasakan puisi menjadi
prosa ialah seperti berikut.
(1) Bacalah atau dengarkan pembacaan puisi dengan seksama.
(2) Pahami isi kandungan puisi secara utuh.
(3) Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi.
(4) Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan
menggunakan kalimat sendiri.
(5) Sampaikan secara lisan atau dibacakan.
Contoh parafrasa puisi
Menyesal
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah... apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke arah padang Bakti
Puisi Baru, Ali Hasyimi
Setelah kita mendengarkan pembacaan puisi tersebut, dapat kita
parafrasa sebagai berikut.
Puisi “menyesal”, karya Ali Hasymi mengisahkan seseorang yang
menyesali masa mudanya tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ia
lalai dan lengah. Kini di hari tuanya, ia merasa miskin ilmu, miskin harta
(tidak berilmu dan tidak mempunyai harta apa-apa). Ia merasa tidak ada
guna menyesali diri. Akan tetapi, ia tidak berhenti dalam sesalnya. Ia
bangkit dan mengajak generasi muda: atur barisan di hari pagi, menuju ke
arah padang bakti.
118 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
D. Memparafrasakan Naskah Drama Menjadi Prosa
atau Cerita
Naskah drama juga termasuk karya sastra memiliki ciri khas tersendiri.
Naskah drama terdiri atas uraian cerita dan dialog, namun lebih banyak
unsur dialognya. Dalam naskah drama, tokoh ditulis berjajar di sebelah
kiri diikuti dengan percakapan tokoh tersebut. Sesekali terdapat penjelasan
mengenai gerakan, perilaku, pikiran, atau perasaan si tokoh yang ditulis
di dalam kurung. Memparafrasa naskah drama sama dengan puisi, yaitu
kita harus membacanya untuk memahami jalan ceritanya secara utuh.
Jika dalam puisi banyak terdapat simbol, pada naskah drama, kita harus
memperhatikan unsur berikut.
(1) Pahami setting atau latar cerita.
(2) Pahami dialog dan ambil simpulannya secara menyeluruh.
(3) Pahami penjelasan tentang tokoh yang ada di dalam kurung.
Setelah mendapatkan kesan secara umum jalan cerita dalam naskah
drama, uraikan kembali cerita drama ke bentuk prosa singkat dengan
menggunakan bahasa sendiri.
Bacalah naskah drama berikut!
Kudri sedang asyik memukul-mukul meja dengan irama dangdut. Yadi menarinari
di depan kelas. Rurin dan Mini duduk di bangku deretan paling depan. Mereka
berdua sedang belajar.
Rurin : (kesal) “Hentikan!”
Kurdi : (belagak bodoh) “Ha...?” (terus memukul-mukul meja guru lagi)
Rurin : (bangkit lalu menarik lengan Yadi seraya membentak) “Keluar
kau!”
Yadi : (keluar sebentar dan ketika mendengar Kurdi menabui meja lagi,
lalu masuk ke kelas dan menari-nari lagi) “Enak juga menari-nari
begini, ya Kur!”
Kurdi : “Asyi iiiiiik!”
Rurin : (membentak lagi sambil menutup kedua telinganya) “Hei....
berhenti!”
Kurdi : “Aaa ... pa! ” (makin keras menabuh meja). “Ayo kita ganti irama
jaipongan.”
Yadi : “Oke, oke !” (mulai menari lagi)
Kurdi : “Asy... asy...”
Yadi : “Asy i i i i i i i k!”
Mini : (agak terkejut) “Ooo..., rupanya kalian memang sudah
bersekongkol, ya?”
Kurdi : “Lho, kok ikut marah?”
Mini : “Kalian memang suka mengganggu!”
Kurdi : “Mengganggu?”
Mini : “Jangan tabuh meja itu! Kalau mau menari-nari dan tabuhtabuhan
sana di depan toko atau di pasar!”
Kurdi : “Hei, berlagak jago ya !” (menunjuk keluar). “Kalau mereka
boleh ribut, kenapa kami tidak boleh?”
Mini : “Sudahlah, Rin! Biarkan saja! Nanti kalau sudah bosan akan
diam sendiri!”
Rurin : “Berhenti atau tidak?” (mengancam)
Yadi : “Teruskan, Kur! Kita kan sedang istirahat.”
Kurdi : (berhenti menabuh meja, lalu berkacak pinggang menantang Rurin)
“mau apa?”
Rurin : “Jangan pukul begitu”.
Yadi : (memberi semangat) “Ayo, pukul saja, Kur!”
Rurin : “Heh, beraninya sama anak perempuan! Tak tau malu!”
Mini : “Sudahlah, tak usah ribut! Kita ini teman sekelas, bukan?”
Yadi : “Bagus Kur! Ayoh lawan saja”.
Mini : (setelah menatap Yadi, lalu kepada Kurdi) “Mereka bermain di
luar kelas tau”
Kurdi : “Ayo, kita mulai, Yad!” (menabuh meja lagi).
Rurin : (tidak sabar lagi. Bangkit mengambil penggaris, lalu mengancam)
“Kalian mau keluar atau tidak!”
Mini juga bangkit membantu Rurin, Kurdi didorong-dorong keluar. Sebuah
pukulan mengenai punggung Kurdi. Lalu, terjadi perebutan penggaris. Yadi
bersorak-sorak sambil bertepuk tangan. Suasana di kelas makin riuh.

Parafrasanya adalah
Kurdi sedang asyik menabuh-nabuh meja dengan irama dangdut,
sedangkan Yadi sedang menari-nari di depan kelas. Rurin dan Mini duduk
di bangku deretan depan. Mereka berdua sedang belajar. Rurin dengan
kesal berkata, “Hentikan!” Namun dengan berlagak bodoh, Kurdi berkata,
“Ha?” sambil terus memukul mukul meja guru lagi. Rurin kesal dan bangkit
lalu menarik lengan Yadi seraya membentak dan berkata, ”Keluar!”
Kemudian, Yadi keluar sebentar dan ketika mendengar Kurdi menabuhi
meja lagi, sambil berkata kepada Kurdi, “Enak juga menari-nari begini,
ya Kur!” Kurdi membalas dengan berkata, “Asyiiik.” Dengn kesal, Rurin
membentak lagi sambil menutup kedua tangannya sambil berteriak, “Hei...
berhenti!” Kurdi membalas dengan berkata “Aa...pa!” dan menabuh meja
makin keras dan kembali menabuh meja lagi sambil mengajak Yadi, “Ayo,
kita ganti irama Jaipongan,” dan terus mengajar Yadi menari, lalu Yadi
menjawab, “Oke-oke!” Sambil mulai menari lagi. Kurdi berkata, “asy.. asy..”
Yadi membalas, “Asyiiik!” Mini datang, agak terkejut dan berkata kepada
Kurdi dan Yadi, “Oo.. rupanya kalian sudah bersekongkol, ya?” Kurdi
membalas Mini dengan berkata, “Lho kok ikut marah?” ”Kalian memang
suka mengganggu?” Dengan suara keras, Mini melarang Kurdi, “Jangan
tabuh meja itu!” “Kalau mau menari-nari sana di depan toko atau di pasar!”
sambil menunjuk ke luar, Kurdi berkata, “Hei, berlagak jago ya?” “Kalau
mereka boleh ribut, kenapa kami tidak boleh?” Mini menjawab sambil
menghampiri Rurin, “Sudahlah, Ri! Biarkan saja! Kalau sudah bosen, akan
diam sendiri.” Namun, Rurin dengan nada mengancam berkata, “Berhenti
atau tidak?” Yadi malah menyuruh Kurdi untuk terus menabuh meja,
dengan berkata, “Teruskan, Kur! Kitakan sedang istirahat.”
Kurdi akhirnya berhenti menabuh meja sambil berkacak pinggang
menantang Rurin dan berkata, “Mau apa?” Rurin menjawab, “Jangan pukul
begitu.” Yadi memberi semangat kepada Kurdi dengan berkata, “Ayo, pukul
saja, Kur!” Rurin menjawab, “Heh! Beraninya sama anak perempuan! Tak
tau malu.” Mini melerai, “Sudahlah tak usah ribut. Kita ini teman sekelas,
bukan?” Yadi menjawab, “Bagus Kur, ayo lawan saja!”. Mini menatap
Yadi dan Kurdi bergantian seraya berkata, “Mereka bermain di luar kelas,
tahu!” Kurdi mengajak Yadi menabuh meja lagi. Rurin tidak sabar lagi
melihat kelakuan Kurdi dan Yadi. Ia bangkit mengambil penggaris, lalu
mengancam, “Kalian mau keluar atau tidak?” Mini bangkit membantu
Rurin dengan mendorong-dorong Kurdi keluar, sebuah pukulan mengenai
punggung Kurdi, mereka saling berebutan penggaris. Yadi bersorak-sorak
sambil bertepuk tangan menambah riuh suasana kelas.
Uraian parafrasa naskah drama dapat berbentuk tidak langsung, yaitu
dengan mengubah dialog atau percakapan para tokoh menjadi kalimat
tidak langsung. Ungkapkan kembali cerita drama dengan bahasa sendiri.
E. Pola Penyajian Informasi Lisan
Beberapa pola penyajian atau penyampaian informasi secara lisan
adalah seperti berikut.
1. Pola Contoh
Parafrasa dengan pola contoh dikembangkan memerinci atau
memberikan ilustrasi untuk menjelaskan ide pokoknya.
Contoh:
Pohon pisang merupakan pohon yang banyak fungsinya. Selain
buahnya, daun dan batangnya dapat dimanfaatkan. Daun pisang dapat
digunakan untuk membungkus, sedangkan batangnya dimanfaatkan
untuk membuat perhiasan dalam pernikahan.
2. Pola Proses
Parafrasa diuraikan dalam bentuk proses, dengan memerinci cara kerja,
langkah-langkah atau tahapan pelaksanaan. Parafrasa dengan pola ini
berbentuk uraian ekspositoris.
Contoh:
Berikut ini adalah proses pembuatan lumpia.
Pertama, tumis bawang bombai dan bawang putih sampai harum.
Kedua, masukkan daun bawang dan ayam cincang, masak selama
kurang lebih tiga menit. Ketiga, masukkan jagung manis, jamur
kancing, bayam, lada, gula pasir, dan bumbu penyedap secukupnya.
Keempat, aduk sampai rata jagung dan bumbu-bumbu tersebut sampai
layu. Terakhir, masukkan larutan maizena sedikit demi sedikit sambil
diaduk-aduk kurang lebih lima menit dan sisihkan.
3. Pola Sebab Akibat
Parafrasa dengan pola ini diawali dengan mengemukakan atau
menggambarkan hal-hal yang menunjukkan sebab dan akhiri dengan
suatu akibat.
Contoh:
Mencuci dengan sabun deterjen dapat memudarkan warna tekstil
atau bahan pakaian. Memudarnya warna pakaian terlihat seperti
lusuh dan usang. Pakaian lusuh tidak layak untuk dipakai. Akibatnya,
banyak orang tidak menggunakan lagi sabun deterjen untuk mencuci
pakaian.
4. Pola Urutan/Kronologis
Parafrasa pola ini pemaparannya diuraikan berdasarkan urutan waktu
dan rangkaian kejadiannya. Parafrasa pada pola urutan/kronologis
bersifat narasi.
Contoh:
Saya mendengar suara kentongan, sepertinya itu pedagang bakmi
lewat. Saya pergi keluar dan membuka pintu pagar, lalu memanggilnya.
Ia berhenti. Pedagang itu seorang laki-laki. Dia bertanya, “Mau pesan
berapa porsi?” Saya jawab “Satu porsi saja.” Kemudian, laki-laki itu
menyiapkan bakmi sesuai pesanan saya. Setelah bakmi selesai dibuat,
saya memberikan uang lima ribu rupiah untuk membayar bakmi
kepada pedagang keliling itu, kemudian saya masuk ke rumah, dan
pedagang berlalu dari depan rumah saya.