Sabtu, 14 Februari 2015

Materi Bahasa Indonesia Kelas XI SMK tahun 2015-2016

Kelas XI semester ganjil
  1. Menyimak untuk menyimpulkan    informasi yang tidak bersifat perintah dalam konteks bekerja 
  2. Menyimak untuk memahami perintah yang diungkapkan atau yang tidak dalam konteks bekerja
  3. Memahami perintah kerja tertulis
  4. Membaca untuk memahami makna kata bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja 
  5. Menggunakan secara lisan kalimat tanya/pertanyaan dalam konteks bekerja
  6. Membuat parafrasa lisan dalam konteks bekerja
  7. Menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi

Kelas XI semester genap
  1. Bercakap-cakap secara sopan dengan mitra bicara dalam konteks bekerja
  2. Berdiskusi yang bermakna dalam konteks bekerja
  3. Bernegosiasi yang menghasilkan dalam konteks bekerja
  4. Menyampaikan laporan atau presentasi lisan dalam konteks bekerja
  5. Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif
  6. Meringkas teks tertulis dalam konteks bekerja
  7. Menyimpulkan isi teks tertulis dalam konteks bekerja

Senin, 09 Februari 2015

Majas, Ungkapan dan Peribahasa

Pengertian Majas, Ungkapan, Peribahasa Beserta Contohnya


A. Majas

Majas atau gaya bahasa merupakan cara pengarang mengekpresikan jiwa perasaan dan pikirannya dalam media bahasa. Majas dapat dibedakan menjadi majas perbandingan, pertentangan, sindiran dan penegasan.

1. Majas Perbandingan

a.Personifikasi

Majas yang melukiskan benda-benda mati seakan-akan menyerupai makhluk hidup. Contoh : mobil terbatuk-batuk, awan meringis gerimis.

b.Hiperbola

Majas yang melukiskan keadaan dengan kata yang hebat atau melebih-lebihkan. Contoh : pekiknya membelah angkasa, pidatonya menyayat jiwa raga.

c. Metafora

Majas yang membandingkan benda dengan melukiskan secara langsung atas dasar sifat yang sama. Contoh : dewi malam (bulan), raja siang (matahari).

d. Eufemisme.

Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan kata-kata yang lebih halus dan lembut. Contoh : tunawisma (gelandangan), sekelompok (gerombolan).

e. Sinekdokhe

1. Pars Prototo : Majas yang melukiskan keadaan sebagian untuk semua atau seluruhnya. Contoh : lima ekor kuda, sepucuk surat, batang hidungnya.

2. Totem Proparte, majas yang melukiskan keadaan semua atau keseluruhan, tetapi hanya untuk sebagian. Contoh : Kaum hawa memperingati hari ibu. Tim futsal SMAN 108 juara turnamen nasional.

f. Litotes

Majas yang melukiskan suatu keadaan berbeda dengan kenyataannya secara merendahkan diri. Contoh : mampirlah ke gubuk ini, perang ini hanya setitik darah.

g. Asosiasi

Majas yang melukiskan suatu keadaan lain karena persamaan sifat. Contoh : wajah orang itu muram bagai bulan kesiangan.

h. Metonimia

Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan menggunakan nama merk dagang. Contoh : Ana ke kampus naik Kijang, Hadi pulang naik Garuda.


2. Majas Pertentangan

a. Antitesis, Majas yang berlawanan arti untuk melukiskan suatu keadaan dengan kepaduan kata. Contoh : kaya atau miskin dia tetap istriku, muda atau tua aku tetap kuat.

b. Paradoks, Majas yang melukiskan suatu keadaan seolah-olah berlawanan arti karena objeknya berbeda. Contoh : Jiwanya sedih di dalam pesta gembira itu, Akalnya kosong di tengah bus yang penuh sesak.

c. Kontradiksi intermimis, Majas yang melukiskan suatu keadaan pertentangan dengan penjelasan semuanya. Contoh : Semua peserta hadir, kecuali Dina yang sakit perut.


3. Majas Sindiran

a. Ironi, Majas yang melukiskan keadaan yang menyatakan sebaliknya dari kenyataan dengan maksud menyidir. Contoh : Wah, bagus sekali tulisanmu seperti cakar ayam! Harum benar, belum mandi ya?

b. Sinisme, Majas seperti ironi tetapi lebih menjurus kasar. Contoh : Huh, kamu itu kerja apa ! Itukah pengorbananmu, gombal !

c. Sarkasme, Majas sindiran yang melukiskan keadaan paling kasar langsung menusuk perasaan. Contoh : Dasar otak udang ! Jangan tong kosong terus !

4. Majas Penegasan

a. Pleonasme, Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi. Contoh : Jatifa maju ke depan, Silahkan mundur ke belakang.

b. Retorik, Majas yang melukiskan keadaan dengan menggunakan kata-kata yang tidak memerlukan jawaban. Contoh : Kamu ingin kaya atau miskin? Apakah istrimu cantik?

c. Paralelisme, Majas yang melukiskan keadaan dengan kata yang berulang-ulang dalam puisi. Contoh : bunga merah merona, bunga desaku harum, bunga menyentuh raga ini, bunga aku datang.

d. Repetisi, Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan pengulangan kata-kata yang digunakan dalam pidato. Contoh : merdeka semboyanku! merdeka harus kita jaga!

e. Klimaks, Majas yang melukiskan keadaan secara berturut-turut dari awal sampai keadaan puncak. Contoh : saya melihat kedua orang itu dari bertemu, duduk, bercakap-cakap, bertengkar, sampai keduanta saling menampar.


B. Ungkapan

Ungkapan atau bentuk idiom adalah gabungan kata yang menimbulkan makna baru yang memiliki makna khusus sehingga tidak dapat diartikan secara sebenarnya.

Contohnya : berdarah biru (kebangsaan), isapan jempol (tak bermakna), kepala dingin (sabar).


C. Peribahasa

Peribahasa adalah sekelompok kata atau kalimat yang susunanya tetap, tidak bisa berubah-ubah, menggambarkan keadaan dengan makna tertentu.

Contoh : menegakkan benang basah (pekerjaan yang sia-sia), bagai air di daun talas (tidak mempunyai pendirian), tong kosong berbunyi nyaring (banyak bicara biasanya bodoh).

Makna Leksikal, Kontekstual, dan Gramatikal

Makna Leksikal adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus. Makna dasar ini melekat pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga disebut makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dengan kata yang lain. Namun, kebanyakan orang lebih suka mendefinisikan makna leksikal sebagai makna kamus. Maksudnya makna yang sesuai dengan yang tetera di kamus.
(a)    rumah
(b)    berumah
contoh yang pertama (a) merupakan kata dasar yang belum mengalami perubahan. Berdasarkan kamus KBBI makna kata rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan contoh kedua (b) merupakan kata turunan.


Makna Kontekstual
adalah makna yang muncul sesuai dengan konteks kata tersebut dipergunakan. Artinya, makna tersebut muncul sebagai makna tambahan disamping makna sebenarnya berupa kesan-kesan yang ditimbulkan oleh sebab situasi tertentu. Misalnya ungkapan “Dasar kerbau, kerjaannya makan tidur saja” , tentu yang dimaksud kerbau bukan hewan yang bertanduk, tapi menunjuk pada manusia. Contoh lain ialah kata kursi secara leksikal maknanya adalah tempat untuk duduk. Kursi pada kalimat “Banyak kursi yang nilainya puluhan juta saat pemilu” , bermakna jabatan yang diperjualbelikan.

Makna Struktural atau Makna Gramatikal adalah makna yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan kata dalam kalimat, dan lain-lain.
(a)    rumah
(b)    berumah
contoh yang kedua (b) mempunyai arti yang berbeda dengan makna yang pertama (a) meskipun kata dasarnya sama, yaitu rumah. Penambahan prefiks atau awalan pada kata rumah membuat makna rumah berubah tidak sejedar bangunan untuk tempat tinggal.

Makna Metaforis adalah makna yang ditimbulkan oleh adanya unsur perbandingan di antara dua hal yang memiliki ciri makna yang sama. Contoh : kata kaki dengan ungkapan kaki langit, kaki gunung dan kaki meja. Kaki tetap menunjukkan bagian bawah, namun ungkapan kaki langit bermakna horizon, kaki gunung berarti lembah, dan kaki meja adalah tiang-tiang penyanggah meja.

Selasa, 03 Februari 2015

Entah Mengapa

Entah mengapa hati yang dulu menggebu-gebu kini perlahan mencair
entah mengapa keputusasaan yang mengengkang sekarag mulai merenggang
Entah mengapa  pikiran yang dulu melayang kini perlahan tenggelam
ENtah mengapa hasrat bertahan mulai menyapa

Entah mengapa aku berpikir kamu itu tidak baik
Entah mengapa ragaku ingin cepat pergi
Entah mengapa aku berpikir kamu hanya sebuah fatamorgana
Entah mengapa hati ini enggan untuk tinggal

sEsOrAh


SESORAH
Sesorah (pidato) yaiku medharake gagasan kanthi lisan ing sangarepe wong akeh. Sesorah uga diarani Medharsabda. Medhar tegese ngandharake, sabda tegese omongan.
Urut-urutane sesorah:
1. Salam Pambuka
Isine ngucapake salam marang para rawuh/tamu, minangka tandha sapa aruh lan pakormatan. Kawiwitan tembung nuwun utawa salam liyane.
2. Pamuji
Isine muji syukur lan panuwun marang Gusti kang Maha Agung supaya adicara kang ditindakake bisa lancar, ora ana alangan saka wiwitan nganti rampung.
3. Isi/wigatining sesorah
Ngaturake apa ancas/tujuane sesorah. Tuladha adicara pepisahan siswa kelas IX, pengetan dina Kartini, ceramah bab kabudayan, agama, politik lan sosial
4. Pangarep-arep
Nyuwun donga pangestu marang para rawuh/tamu supaya apa kang dadi gegayuhane(cita-cita) bisa kaleksanan. Tuladha: sing lulus sekolah bisa oleh gawean, sing ulang taun (ambal warsa) bisa lancar sekolahe, sing dadi manten bisa tentrem anggone mbangun bale wisma, ceramah apa kang diandharake/diterangke migunani marang para tamu/rawuh
5. Panutup
Isine nyuwun pangapura marang para rawuh mbok menawa anggone sesorah/pidato ana kaluputan ing bab basa lan tindak tanduk.
Sesorah ditutup kanthi Salam utawa nuwun/matur nuwun.
TULADHA-TULADHA SESORAH
1. Tuladha sesorah ambal warsa (ulang tahun SMP)
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Nuwun,
Ingkang kinabekten Bapak Kepala Sekolah,
Ingkang pantes sinudarsana Bapak saha Ibu Guru,
Ingkang kinurmatan Bapak/Ibu Karyawan,
Para kadang wredha mudha siswa SMP Tunas Bangsa ingkang kula tresnani.
Langkung rumiyin sumangga kula panjenengan ngunjukaken puja-puji pudyastuti dhumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Mahawikan. Inggih awit sih nugraha sarta berkahipun, kula panjenengan saged pinanggih ing papan punika kanthi bagya mulya kalis ing sambekala
Salajengipun, kula ingkang pinangka sesulihipun panitya, ngaturaken sugeng rawuh. Mugi-mugi rawuh panjenengan saged damel regenging swasana. Awit saking punika, kula ngaturaken agunging panuwun boten kesupen, kula ngaturaken gunging panuwun dhumateng Bapak Kepala Sekolah ingkang sampun paring idi palilah murih kaleksanananipun sedya pengetan ambal warsa SMP Tunas Bangsa ingkang kaping -60 ing kalenggahan siyang punika. Ugi kula ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa upami dhumateng Bapak/Ibu Guru sumarambah Para Karyawan ingkang kepareng paring iguh pratikel murih pratitising adicara punika. Atur panuwun ugi kula aturaken dhumateng para kadang wredha mudha siswa SMP Tunas Bangsa , ingkang asung sabiyantu ngantos adicara punika saged kaleksanan kanthi gancar.
Para Bapak, Ibu, sarta kadang mitra ingkang satuhu bagya mulya. Bilih wigatosing gati , panjenengan kasuwun rawuh ing pahargayan ambal warsa SMP Tunas Bangsa kaping-60 punika kanthi ancas, mugi-mugi pahargyan punika saged dados pecuting lampah ing dinten-dinten samangke, ngandelaken tekad majengangaken panggula wenthah umumipun, ningkataken prestasi sekolah tuwin akhlakipun para siswa mliginipun.
Menggah wedharan sajangkepipun mungguhing pengetan ambal warsa SMP Tunas Bangsa dalah pameran, bazaar, tuwin pentas seni, badhe kababar dening panjenenganipun Bapak Kepala sekolah . mugi-mugi kanthi wedharan samangke, mliginipun para siswa tumanggap ing karya bilih labuh labetipun para sesepuh tuwin alumni SMP Tunas Bangsa rikala semanten sanyata awrat. Ingkang tundhonipun saged nglajengaken semangatipun, pangurbananipun miwah ngukir prestasi ing tataran nasional punapa dene internasional. Awit saking punika, kula nyuwun dhumateng panjenenganipun Bapak kepala sekolah kersaa paring wedharan pengetan ambal warsa SMP Tunas Bangsa ingkang kaping-60 kalajengaken hambuka adicara pameran, bazaar, dalah pentas seni.
Ing wasana, sugeng mriksani ngantos paripurnaning adicara. Namung kemawon, mbokbilih lampahing adicara punika kirang mranani penggalih panjenengan, panitya nyuwun agunging pangaksami. Dene kula pribadi nyuwun lumunturing sih pangaksami menggah solah bawa dalah panataning basa ingkang tebih saking tatakrama tuwin paramasastra.
Nuwun. Wassalammu’alaikum wr.wb.
Matur nuwun.
2. Pasrah calon pinanganten kakung
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Panjenenganipun Bapak/Ibu Sena Nugroho ingkang satuhu dhahat kinurmatan.
Kula pinangka talanging basa panjenenganipun Bapak/Ibu Hadi Sugito wingking saking Toyan ,Wates , Kulon Progo
Ingkang sepisan:
Panjenenganipun Bapak/Ibu Hadi Sugito saha para pinisepuh miwah sesepuh ing Toyan Wates Kulon Progo ngaturaken salam taklim katur panjenenganipun Bapak/Ibu Sena Nugroho miwah para pinisepuh lan sesepuh wonten ing tlatah Gunung Ketur, Pakualaman Ngayogyakarta mriki kanthi atur : Assalamu’alaikum Wr.Wb. Saha kinanthenan pepuji mugi-mugi baraya ageng Bapak/Ibu Seno Nugraha dalah warga bebrayan ing mriki tansah pinaringan berkah rahmating Pangeran, suka rahayu ingkang pinanggih.
Kaping kalihipun:
Kula ingkang tinanggenah masrahaken calon penganten kakung nama bagus Permadi atmajanipun Bapak/Ibu Hadi Sugito kanthi panyuwunan mugi keparenga kadhaupaken kaliyan pun rara Wara Subadra putrinipun Bp/Ibu Seno Nugroho.
Kaping tiganipun :
Saderengipun calon penganten kakung kula pasrahaken wonten ing ngarsa panjenengan, kula ngaturaken sesanti puja-puji pudyastuti ing Gusti Ingkang Murbeng Dumadi mugi-mugi upacara ijab qobul miwah pahargyan wiwahan ingkang badhe katindakaken sageda kalampahan kanthi wilujeng kalis ing sambekala.
Ing samangke calon penganten kakung kula pasrahaken ing panjenengan Ingkang punika , mbokbilih samudayanipun ingkang magepokan kaliyan tata cara ijab qobul sampun satata, keparengan ijabing calon pinanganten enggal katindakna.
Wasana kula ingkang tinanggenah masrahaken putra calon panganten kakung bok bilih wonten kuciwaning atur miwah kiranging suba sita, nyuwun sih lumunturing samodra pangaksami, Nuwun.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
3. Tuladha sesorah Sripah
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Inna Lillahi wa inna illaihi rooji’un 3X
Panjenenganipun Baraya ageng Bapak. Budi Santosa ingkang katemben nandhang dhuhkita ingkang dhahat kinurmatan.
Panjenenganipun para ta’jizah kakung putri ingkang dhahat kinurmatan.
Langkung rumiyin sumangga sesarengan boten kendhat ngaturaken puji syukur konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah SWT ingkang sampun kepareng paring karohmatan dhumateng kula lan panjenengan sedaya awujud gumelaring kabagaswaran satemah saged kempal manunggal ing dalem duhkita mriki saperlu caos pakurmatan ingkang pungkasan dhumateng almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa. Ingkang salajengipun keparenga kula matur minangka sesulihipun warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana mriki
Ingkang sepisan:
Warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana ngaturaken ndherek bela sungkawa, awit sedanipun Almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa.
Kita warganing bebrayan nglenggana punapa ingkang panjenengan raosaken, punapa ingkang panjenengan sandhang, kita rerencang ngindhit sungkawa panjenengan mugi andayanana saged ngenthengaken raosing panalangsa lan dhuhkita.
Kaping kalih:
m Warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana sami anekseni, bilih nalika sugengipun Almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa sae tumindakipun dhateng bebrayan, mungkul ing panembah lan ngibadah, boten nate damel sakserik dhateng sesami.
Mila paseksen punika mugi kapriksanana ing Pangeran, satemah kepareng paring kanugrahan dhateng alusipun Almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa.
Kaping tiga:
Warganing bebrayan ndherek memuji lan ndedonga, mugi-mugi Gusti Allah SWT, paring pangapunten sadaya dosanipun, paring ganjaran sedaya ngamal kasaenanipun, dipun paringana panggenan ingkang prayogi lan mugi kalebet seda ingkang khusnul khotimah. Amin.
Dene kulawarga ingkang tinilar mugi kaparingana manah ekhlas, sabar lan pasrah, lila nampi panduming Gusti Ingkang Maha Agung.
Cekap semanten atur kula minangka sesulihipun warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana, wonten kirang trapsilaning atur kula, kula nyuwun pangapunten.
Bilahit taufiq wal hidayah.Wassalamu’alaikum wr.wb.
Matur nuwun.
4. Atur panampi calon panganten kakung
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Panjenenganipun Bapak/Ibu Hadi Sugito dalah rombongan calon besan saking Toyan Wates Kulon Progo ingkang dhahat kinurmatan.
Kula ingkang tinanggenah pinangka talanging basa panjenenganipun Bapak Seno Nugroho kekalih:
Ingkang sepisan :
Ngaturaken pambagya rahayu wilujeng sarawuh panjenengan sedaya, ingkang sampun kanthi sugeng basuki ngiringaken calon penganten kakung saking Toyan Wates Kulon Progo dumugi ing wismanipun Bapak Seno Nugroho mriki.
Ingkang kaping kalih :
Menggah kasugengan saha salam taklimipun Bapak Hadi Sugito sarimbit sampun kula tampi kanthi atur: Wangalaikum salam Wr. Wb.
Ingkang kaping tiganipun:
Bilih pasrah panjenengan calon panganten kakung pun Bagus Permadi kula tampi kanthi suka pirenaning penggalih, lan samangke sasampunipun dumugi ing titi wancinipun miwah samudayanipun sampun satata ing gati badhe kula ijab qobulaken miwah kawiwaha kaliyan anak kula pun Rara Wara Subadra.
Ingkang kaping sekawanipun:
Kula sadaya nyuwun tambahing donga pangestu para tamu sadaya mugi-mugi ijab miwah pawiwahaning putra pinanganten sarimbit tansaha manggih rahayu wilujeng lulus kalis nir ing sambekala.
Wasana hambokbilih wonten kiranging trapsila, buja krama miwah cewet, kuciwa lan lacuting atur anggen kula nampi rawuh panjenengan sedaya, mugi diagung ing pangaksama.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Tuladha isi (topik) sesorah:
1. Syukuran nalika dadi siswa berprestasi
2. Tanggap warsa (ulang tahun) sekolah minangka wakil siswa
3. Mangayubagya kanca kang kapilih dadi pengurus OSIS
4. Syukuran lulus sekolah
5. Ketua panitia ing pentas seni pengetan dina Kamardikan.
6. Syukuran bisa oleh pagaweyan.
7. Pengetan dina Kartini
8. Pengetan dina Pahlawan
9. Supitan/Khitanan
10. Ngresmekake gedung