Senin, 09 Februari 2015

Majas, Ungkapan dan Peribahasa

Pengertian Majas, Ungkapan, Peribahasa Beserta Contohnya


A. Majas

Majas atau gaya bahasa merupakan cara pengarang mengekpresikan jiwa perasaan dan pikirannya dalam media bahasa. Majas dapat dibedakan menjadi majas perbandingan, pertentangan, sindiran dan penegasan.

1. Majas Perbandingan

a.Personifikasi

Majas yang melukiskan benda-benda mati seakan-akan menyerupai makhluk hidup. Contoh : mobil terbatuk-batuk, awan meringis gerimis.

b.Hiperbola

Majas yang melukiskan keadaan dengan kata yang hebat atau melebih-lebihkan. Contoh : pekiknya membelah angkasa, pidatonya menyayat jiwa raga.

c. Metafora

Majas yang membandingkan benda dengan melukiskan secara langsung atas dasar sifat yang sama. Contoh : dewi malam (bulan), raja siang (matahari).

d. Eufemisme.

Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan kata-kata yang lebih halus dan lembut. Contoh : tunawisma (gelandangan), sekelompok (gerombolan).

e. Sinekdokhe

1. Pars Prototo : Majas yang melukiskan keadaan sebagian untuk semua atau seluruhnya. Contoh : lima ekor kuda, sepucuk surat, batang hidungnya.

2. Totem Proparte, majas yang melukiskan keadaan semua atau keseluruhan, tetapi hanya untuk sebagian. Contoh : Kaum hawa memperingati hari ibu. Tim futsal SMAN 108 juara turnamen nasional.

f. Litotes

Majas yang melukiskan suatu keadaan berbeda dengan kenyataannya secara merendahkan diri. Contoh : mampirlah ke gubuk ini, perang ini hanya setitik darah.

g. Asosiasi

Majas yang melukiskan suatu keadaan lain karena persamaan sifat. Contoh : wajah orang itu muram bagai bulan kesiangan.

h. Metonimia

Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan menggunakan nama merk dagang. Contoh : Ana ke kampus naik Kijang, Hadi pulang naik Garuda.


2. Majas Pertentangan

a. Antitesis, Majas yang berlawanan arti untuk melukiskan suatu keadaan dengan kepaduan kata. Contoh : kaya atau miskin dia tetap istriku, muda atau tua aku tetap kuat.

b. Paradoks, Majas yang melukiskan suatu keadaan seolah-olah berlawanan arti karena objeknya berbeda. Contoh : Jiwanya sedih di dalam pesta gembira itu, Akalnya kosong di tengah bus yang penuh sesak.

c. Kontradiksi intermimis, Majas yang melukiskan suatu keadaan pertentangan dengan penjelasan semuanya. Contoh : Semua peserta hadir, kecuali Dina yang sakit perut.


3. Majas Sindiran

a. Ironi, Majas yang melukiskan keadaan yang menyatakan sebaliknya dari kenyataan dengan maksud menyidir. Contoh : Wah, bagus sekali tulisanmu seperti cakar ayam! Harum benar, belum mandi ya?

b. Sinisme, Majas seperti ironi tetapi lebih menjurus kasar. Contoh : Huh, kamu itu kerja apa ! Itukah pengorbananmu, gombal !

c. Sarkasme, Majas sindiran yang melukiskan keadaan paling kasar langsung menusuk perasaan. Contoh : Dasar otak udang ! Jangan tong kosong terus !

4. Majas Penegasan

a. Pleonasme, Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi. Contoh : Jatifa maju ke depan, Silahkan mundur ke belakang.

b. Retorik, Majas yang melukiskan keadaan dengan menggunakan kata-kata yang tidak memerlukan jawaban. Contoh : Kamu ingin kaya atau miskin? Apakah istrimu cantik?

c. Paralelisme, Majas yang melukiskan keadaan dengan kata yang berulang-ulang dalam puisi. Contoh : bunga merah merona, bunga desaku harum, bunga menyentuh raga ini, bunga aku datang.

d. Repetisi, Majas yang melukiskan suatu keadaan dengan pengulangan kata-kata yang digunakan dalam pidato. Contoh : merdeka semboyanku! merdeka harus kita jaga!

e. Klimaks, Majas yang melukiskan keadaan secara berturut-turut dari awal sampai keadaan puncak. Contoh : saya melihat kedua orang itu dari bertemu, duduk, bercakap-cakap, bertengkar, sampai keduanta saling menampar.


B. Ungkapan

Ungkapan atau bentuk idiom adalah gabungan kata yang menimbulkan makna baru yang memiliki makna khusus sehingga tidak dapat diartikan secara sebenarnya.

Contohnya : berdarah biru (kebangsaan), isapan jempol (tak bermakna), kepala dingin (sabar).


C. Peribahasa

Peribahasa adalah sekelompok kata atau kalimat yang susunanya tetap, tidak bisa berubah-ubah, menggambarkan keadaan dengan makna tertentu.

Contoh : menegakkan benang basah (pekerjaan yang sia-sia), bagai air di daun talas (tidak mempunyai pendirian), tong kosong berbunyi nyaring (banyak bicara biasanya bodoh).

Makna Leksikal, Kontekstual, dan Gramatikal

Makna Leksikal adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus. Makna dasar ini melekat pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga disebut makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dengan kata yang lain. Namun, kebanyakan orang lebih suka mendefinisikan makna leksikal sebagai makna kamus. Maksudnya makna yang sesuai dengan yang tetera di kamus.
(a)    rumah
(b)    berumah
contoh yang pertama (a) merupakan kata dasar yang belum mengalami perubahan. Berdasarkan kamus KBBI makna kata rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan contoh kedua (b) merupakan kata turunan.


Makna Kontekstual
adalah makna yang muncul sesuai dengan konteks kata tersebut dipergunakan. Artinya, makna tersebut muncul sebagai makna tambahan disamping makna sebenarnya berupa kesan-kesan yang ditimbulkan oleh sebab situasi tertentu. Misalnya ungkapan “Dasar kerbau, kerjaannya makan tidur saja” , tentu yang dimaksud kerbau bukan hewan yang bertanduk, tapi menunjuk pada manusia. Contoh lain ialah kata kursi secara leksikal maknanya adalah tempat untuk duduk. Kursi pada kalimat “Banyak kursi yang nilainya puluhan juta saat pemilu” , bermakna jabatan yang diperjualbelikan.

Makna Struktural atau Makna Gramatikal adalah makna yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan kata dalam kalimat, dan lain-lain.
(a)    rumah
(b)    berumah
contoh yang kedua (b) mempunyai arti yang berbeda dengan makna yang pertama (a) meskipun kata dasarnya sama, yaitu rumah. Penambahan prefiks atau awalan pada kata rumah membuat makna rumah berubah tidak sejedar bangunan untuk tempat tinggal.

Makna Metaforis adalah makna yang ditimbulkan oleh adanya unsur perbandingan di antara dua hal yang memiliki ciri makna yang sama. Contoh : kata kaki dengan ungkapan kaki langit, kaki gunung dan kaki meja. Kaki tetap menunjukkan bagian bawah, namun ungkapan kaki langit bermakna horizon, kaki gunung berarti lembah, dan kaki meja adalah tiang-tiang penyanggah meja.

Selasa, 03 Februari 2015

Entah Mengapa

Entah mengapa hati yang dulu menggebu-gebu kini perlahan mencair
entah mengapa keputusasaan yang mengengkang sekarag mulai merenggang
Entah mengapa  pikiran yang dulu melayang kini perlahan tenggelam
ENtah mengapa hasrat bertahan mulai menyapa

Entah mengapa aku berpikir kamu itu tidak baik
Entah mengapa ragaku ingin cepat pergi
Entah mengapa aku berpikir kamu hanya sebuah fatamorgana
Entah mengapa hati ini enggan untuk tinggal

sEsOrAh


SESORAH
Sesorah (pidato) yaiku medharake gagasan kanthi lisan ing sangarepe wong akeh. Sesorah uga diarani Medharsabda. Medhar tegese ngandharake, sabda tegese omongan.
Urut-urutane sesorah:
1. Salam Pambuka
Isine ngucapake salam marang para rawuh/tamu, minangka tandha sapa aruh lan pakormatan. Kawiwitan tembung nuwun utawa salam liyane.
2. Pamuji
Isine muji syukur lan panuwun marang Gusti kang Maha Agung supaya adicara kang ditindakake bisa lancar, ora ana alangan saka wiwitan nganti rampung.
3. Isi/wigatining sesorah
Ngaturake apa ancas/tujuane sesorah. Tuladha adicara pepisahan siswa kelas IX, pengetan dina Kartini, ceramah bab kabudayan, agama, politik lan sosial
4. Pangarep-arep
Nyuwun donga pangestu marang para rawuh/tamu supaya apa kang dadi gegayuhane(cita-cita) bisa kaleksanan. Tuladha: sing lulus sekolah bisa oleh gawean, sing ulang taun (ambal warsa) bisa lancar sekolahe, sing dadi manten bisa tentrem anggone mbangun bale wisma, ceramah apa kang diandharake/diterangke migunani marang para tamu/rawuh
5. Panutup
Isine nyuwun pangapura marang para rawuh mbok menawa anggone sesorah/pidato ana kaluputan ing bab basa lan tindak tanduk.
Sesorah ditutup kanthi Salam utawa nuwun/matur nuwun.
TULADHA-TULADHA SESORAH
1. Tuladha sesorah ambal warsa (ulang tahun SMP)
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Nuwun,
Ingkang kinabekten Bapak Kepala Sekolah,
Ingkang pantes sinudarsana Bapak saha Ibu Guru,
Ingkang kinurmatan Bapak/Ibu Karyawan,
Para kadang wredha mudha siswa SMP Tunas Bangsa ingkang kula tresnani.
Langkung rumiyin sumangga kula panjenengan ngunjukaken puja-puji pudyastuti dhumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Mahawikan. Inggih awit sih nugraha sarta berkahipun, kula panjenengan saged pinanggih ing papan punika kanthi bagya mulya kalis ing sambekala
Salajengipun, kula ingkang pinangka sesulihipun panitya, ngaturaken sugeng rawuh. Mugi-mugi rawuh panjenengan saged damel regenging swasana. Awit saking punika, kula ngaturaken agunging panuwun boten kesupen, kula ngaturaken gunging panuwun dhumateng Bapak Kepala Sekolah ingkang sampun paring idi palilah murih kaleksanananipun sedya pengetan ambal warsa SMP Tunas Bangsa ingkang kaping -60 ing kalenggahan siyang punika. Ugi kula ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa upami dhumateng Bapak/Ibu Guru sumarambah Para Karyawan ingkang kepareng paring iguh pratikel murih pratitising adicara punika. Atur panuwun ugi kula aturaken dhumateng para kadang wredha mudha siswa SMP Tunas Bangsa , ingkang asung sabiyantu ngantos adicara punika saged kaleksanan kanthi gancar.
Para Bapak, Ibu, sarta kadang mitra ingkang satuhu bagya mulya. Bilih wigatosing gati , panjenengan kasuwun rawuh ing pahargayan ambal warsa SMP Tunas Bangsa kaping-60 punika kanthi ancas, mugi-mugi pahargyan punika saged dados pecuting lampah ing dinten-dinten samangke, ngandelaken tekad majengangaken panggula wenthah umumipun, ningkataken prestasi sekolah tuwin akhlakipun para siswa mliginipun.
Menggah wedharan sajangkepipun mungguhing pengetan ambal warsa SMP Tunas Bangsa dalah pameran, bazaar, tuwin pentas seni, badhe kababar dening panjenenganipun Bapak Kepala sekolah . mugi-mugi kanthi wedharan samangke, mliginipun para siswa tumanggap ing karya bilih labuh labetipun para sesepuh tuwin alumni SMP Tunas Bangsa rikala semanten sanyata awrat. Ingkang tundhonipun saged nglajengaken semangatipun, pangurbananipun miwah ngukir prestasi ing tataran nasional punapa dene internasional. Awit saking punika, kula nyuwun dhumateng panjenenganipun Bapak kepala sekolah kersaa paring wedharan pengetan ambal warsa SMP Tunas Bangsa ingkang kaping-60 kalajengaken hambuka adicara pameran, bazaar, dalah pentas seni.
Ing wasana, sugeng mriksani ngantos paripurnaning adicara. Namung kemawon, mbokbilih lampahing adicara punika kirang mranani penggalih panjenengan, panitya nyuwun agunging pangaksami. Dene kula pribadi nyuwun lumunturing sih pangaksami menggah solah bawa dalah panataning basa ingkang tebih saking tatakrama tuwin paramasastra.
Nuwun. Wassalammu’alaikum wr.wb.
Matur nuwun.
2. Pasrah calon pinanganten kakung
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Panjenenganipun Bapak/Ibu Sena Nugroho ingkang satuhu dhahat kinurmatan.
Kula pinangka talanging basa panjenenganipun Bapak/Ibu Hadi Sugito wingking saking Toyan ,Wates , Kulon Progo
Ingkang sepisan:
Panjenenganipun Bapak/Ibu Hadi Sugito saha para pinisepuh miwah sesepuh ing Toyan Wates Kulon Progo ngaturaken salam taklim katur panjenenganipun Bapak/Ibu Sena Nugroho miwah para pinisepuh lan sesepuh wonten ing tlatah Gunung Ketur, Pakualaman Ngayogyakarta mriki kanthi atur : Assalamu’alaikum Wr.Wb. Saha kinanthenan pepuji mugi-mugi baraya ageng Bapak/Ibu Seno Nugraha dalah warga bebrayan ing mriki tansah pinaringan berkah rahmating Pangeran, suka rahayu ingkang pinanggih.
Kaping kalihipun:
Kula ingkang tinanggenah masrahaken calon penganten kakung nama bagus Permadi atmajanipun Bapak/Ibu Hadi Sugito kanthi panyuwunan mugi keparenga kadhaupaken kaliyan pun rara Wara Subadra putrinipun Bp/Ibu Seno Nugroho.
Kaping tiganipun :
Saderengipun calon penganten kakung kula pasrahaken wonten ing ngarsa panjenengan, kula ngaturaken sesanti puja-puji pudyastuti ing Gusti Ingkang Murbeng Dumadi mugi-mugi upacara ijab qobul miwah pahargyan wiwahan ingkang badhe katindakaken sageda kalampahan kanthi wilujeng kalis ing sambekala.
Ing samangke calon penganten kakung kula pasrahaken ing panjenengan Ingkang punika , mbokbilih samudayanipun ingkang magepokan kaliyan tata cara ijab qobul sampun satata, keparengan ijabing calon pinanganten enggal katindakna.
Wasana kula ingkang tinanggenah masrahaken putra calon panganten kakung bok bilih wonten kuciwaning atur miwah kiranging suba sita, nyuwun sih lumunturing samodra pangaksami, Nuwun.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
3. Tuladha sesorah Sripah
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Inna Lillahi wa inna illaihi rooji’un 3X
Panjenenganipun Baraya ageng Bapak. Budi Santosa ingkang katemben nandhang dhuhkita ingkang dhahat kinurmatan.
Panjenenganipun para ta’jizah kakung putri ingkang dhahat kinurmatan.
Langkung rumiyin sumangga sesarengan boten kendhat ngaturaken puji syukur konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah SWT ingkang sampun kepareng paring karohmatan dhumateng kula lan panjenengan sedaya awujud gumelaring kabagaswaran satemah saged kempal manunggal ing dalem duhkita mriki saperlu caos pakurmatan ingkang pungkasan dhumateng almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa. Ingkang salajengipun keparenga kula matur minangka sesulihipun warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana mriki
Ingkang sepisan:
Warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana ngaturaken ndherek bela sungkawa, awit sedanipun Almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa.
Kita warganing bebrayan nglenggana punapa ingkang panjenengan raosaken, punapa ingkang panjenengan sandhang, kita rerencang ngindhit sungkawa panjenengan mugi andayanana saged ngenthengaken raosing panalangsa lan dhuhkita.
Kaping kalih:
m Warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana sami anekseni, bilih nalika sugengipun Almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa sae tumindakipun dhateng bebrayan, mungkul ing panembah lan ngibadah, boten nate damel sakserik dhateng sesami.
Mila paseksen punika mugi kapriksanana ing Pangeran, satemah kepareng paring kanugrahan dhateng alusipun Almarhumah Ibu Sutini Budi Santosa.
Kaping tiga:
Warganing bebrayan ndherek memuji lan ndedonga, mugi-mugi Gusti Allah SWT, paring pangapunten sadaya dosanipun, paring ganjaran sedaya ngamal kasaenanipun, dipun paringana panggenan ingkang prayogi lan mugi kalebet seda ingkang khusnul khotimah. Amin.
Dene kulawarga ingkang tinilar mugi kaparingana manah ekhlas, sabar lan pasrah, lila nampi panduming Gusti Ingkang Maha Agung.
Cekap semanten atur kula minangka sesulihipun warganing bebrayan ing dhusun Jati Srana, wonten kirang trapsilaning atur kula, kula nyuwun pangapunten.
Bilahit taufiq wal hidayah.Wassalamu’alaikum wr.wb.
Matur nuwun.
4. Atur panampi calon panganten kakung
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Panjenenganipun Bapak/Ibu Hadi Sugito dalah rombongan calon besan saking Toyan Wates Kulon Progo ingkang dhahat kinurmatan.
Kula ingkang tinanggenah pinangka talanging basa panjenenganipun Bapak Seno Nugroho kekalih:
Ingkang sepisan :
Ngaturaken pambagya rahayu wilujeng sarawuh panjenengan sedaya, ingkang sampun kanthi sugeng basuki ngiringaken calon penganten kakung saking Toyan Wates Kulon Progo dumugi ing wismanipun Bapak Seno Nugroho mriki.
Ingkang kaping kalih :
Menggah kasugengan saha salam taklimipun Bapak Hadi Sugito sarimbit sampun kula tampi kanthi atur: Wangalaikum salam Wr. Wb.
Ingkang kaping tiganipun:
Bilih pasrah panjenengan calon panganten kakung pun Bagus Permadi kula tampi kanthi suka pirenaning penggalih, lan samangke sasampunipun dumugi ing titi wancinipun miwah samudayanipun sampun satata ing gati badhe kula ijab qobulaken miwah kawiwaha kaliyan anak kula pun Rara Wara Subadra.
Ingkang kaping sekawanipun:
Kula sadaya nyuwun tambahing donga pangestu para tamu sadaya mugi-mugi ijab miwah pawiwahaning putra pinanganten sarimbit tansaha manggih rahayu wilujeng lulus kalis nir ing sambekala.
Wasana hambokbilih wonten kiranging trapsila, buja krama miwah cewet, kuciwa lan lacuting atur anggen kula nampi rawuh panjenengan sedaya, mugi diagung ing pangaksama.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Tuladha isi (topik) sesorah:
1. Syukuran nalika dadi siswa berprestasi
2. Tanggap warsa (ulang tahun) sekolah minangka wakil siswa
3. Mangayubagya kanca kang kapilih dadi pengurus OSIS
4. Syukuran lulus sekolah
5. Ketua panitia ing pentas seni pengetan dina Kamardikan.
6. Syukuran bisa oleh pagaweyan.
7. Pengetan dina Kartini
8. Pengetan dina Pahlawan
9. Supitan/Khitanan
10. Ngresmekake gedung

Jumat, 30 Januari 2015

kELas kATa

KELAS KATA


Kata merupakan unsur utama dalam membentuk kalimat. Selain bentuk dasarnya, kata juga dapat dibentuk melalui proses morfologis, yaitu afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (perulangan), dan komposisi (penggambungan) untuk menyampaikan maksud yang terkandung di dalam kalimat.
Dalam kalimat, kata memiliki kedudukan atau jabatan seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan. Dalam kaitannya dengan jabatan di  dalam kalimat dan hubungannya dengan fungsi serta makna yang ditunjukkannya, kata dikategorikan ke dalam kelas kata.
Dalam perkembangan tata bahasa Indonesia, terdapat banyak rumusan tentang kelas kata oleh para ahli bahasa.Namun secara umum, kelas kata terbagi menjadi berikut ini.
1.  Kata kerja (verba)
2.  Kata sifat (adjektiva)
3.  Kata keterangan (adverbia)
4.  Kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
5.  Kelompok kata tugas ialah :
  • Kata Sandang (artikel)
  • Kata Depan (preposisi)
  • Kata Hubung (konjungsi)
  • Partikel
  • Kata Seru (interjeksi)

1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atautindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat.Kata kerja pada umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri kata kerja:
1. Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah
    Contoh: akan mandi, akan tidur, sedang makan, telah pulang
2. Dapat diingkari dengan kata tidak
    Contoh: tidak makan, tidak tidur.
3. Dapat diikuti oleh gabungan kata dengan + KB/KS
    Contoh: Pergi dengan adik, menulis dengan cepat.
Macam-macam kata kerja (verba):
a. Verba dasar bebas, seperti: duduk, makan, mandi, minum, pergi, pulang, tidur
b. Verba turunan, terdiri atas:
1. Verba berafiks:
Contoh: ajari, bernyanyi, bertaburan.
2. Verba bereduplikasi:
Contoh: bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan, marah-marah.
c. Verba berproses gabung:
Contoh:  bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, makan-makan.
d. Verba majemuk :
Contoh:  cuci mata, campur tangan, unjuk gigi.
e. Verba transitif (kata kerja yang membutuhkan objek)
Contoh :  -  Saya menulis surat.
                                 S         P           O
                -   Adik membeli balon.
                                    S           P          O
f. Verba intransitif (kata kerja yang tak memerlukan objek)
Contoh :   -  Mereka duduk di taman.  
                                    S           P               K
                             -  Anak-anak itu bersepeda di sepanjang pantai.
                                     S                       P                    K
                             -   Adik sedang mandi.
                                    S               P

2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat atau adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan watak, dan tabiat orang/binatang/ benda.Kata sifat umumnya berfungsi sebagai predikat, objek dan penjelas subjek.
Ciri-ciri kata sifat:
1. Dapat diberi keterangan pembanding lebih, kurang, dan paling
            Contoh:  lebih indah, kurang bagus, paling kaya.
2. Dapat diberi keterangan penguat: sangat, amat, benar, terlalu, dan sekali
            Contoh: sangat senang, amat keras, mahal benar, terlalu berat, sedikit sekali.
3. Dapat diingkari dengan kata tidak
Contoh: tidak benar, tidak halus, tidak sehat, dan sebagainya.
Macam-macam adjektiva:
a.  Ajektiva dasar, seperti  adil, afdol, bangga, baru, cemas, disiplin, anggun, bengkak.
b. Adjektiva turunan terdiri atas:
1. adjektiva berafiks
            contoh: terhormat, terindah, kesakitan, kesepian, keinggris-inggrisan.
 2. adjektiva bereduplikasi
            contoh:  muda-muda, elok-elok, cantik-cantik.
3. adjektiva berafiks –i, -wi, -iah
contoh:  abadi, duniawi, insani, ilmiah, rohaniah, surgawi.
  1.  Adjektiva deverbalisasi, misalnya:  melengking, terkejut, menggembirakan, meluap.
  2.  Adjektiva denominalisasi, misalnya: berapi-api, berbudi, budiman, kesatria, berbusa.
  3.  Adjektiva de-adverbialisasi, misalnya : bersungguh-sungguh, berkurang, bertambah.
  4.  Adjektiva denumeralia, misalnya: manunggal, mendua, menyeluruh.
  5.  Adjektiva de-interjeksi, misalnya: aduhai, sip, asoy.
  6.  Adjektiva majemuk, misalnya: panjang tangan, buta huruf, lupa daratan, tinggi hati.
  7. Adjektiva eksesif (berlebih-lebihan), misalnya :alangkah gagahnya, bukan main kuatnya, Maha kuasa.3. Kata Keterangan (Adverbia)
  8. Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan
  9. pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.

3. Kata Keterangan (Adverbia)
 Macam-macam adverbia:
  1. Adverbia dasar bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya, tidak, paling,
pernah, pula, saja, saling.
b.  Adverbia turunan terbagi atas:
1.  Adverbia reduplikasi, misalnya: agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih,paling-paling.
2.  Adverbia gabungan, misalnya: belum boleh, belum pernah, atau tidak mungkin.
3.  Adverbia  yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau, agaknya, harusnya,
     sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.

4.  Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
a.  Kata Benda (Nomina)
Kata benda atau nomina adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak).Kata benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan.
Ciri-ciri kata benda:
1. Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh : bukan gula, bukan rumah, bukan mimpi, bukan pengetahuan.
2. Dapat diikuti dengan gabungan kata yang + KS (kata sifat) atau yang sangat + KS
Contoh : buku yang mahal, pengetahuan yang sangat penting, orang yang baik.
Macam-macam nomina:
  • Nomina bernyawa, misalnya: Umar, Abdullah, nenek, nona, ayah, kerbau, ayam.
  • Nomina tak bernyawa, misalnya: nama lembaga, hari, waktu, daerah, bahasa.
  • Nomina terbilang, misalnya: kantor, rumah, orang, buku.
  • Nomina tak terbilang, misalnya: udara, kebersihan, kemanusiaan.
  • Nomina kolektif, misalnya: cairan, asinan, buah-buahan, kelompok.
  • Nomina ukuran, misalnya: pucuk, genggam, batang, kilogram, inci.
  • Nomina dari   proses nominalisasi, misalnya: keadilan, kenaikan, pembicara, pemotong, anjuran, simpulan, pengumuman, pemberontakan.
  • Nominalisasi dengan  si dan  sang, misalnya: si kecil, si manis, sang kancil, sang dewi.
  • Nominalisasi dengan  yang, misalnya: yang lari, yang berbaju, yang cantik.
b. Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacupada nomina lain.  Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda ataunomina.
Macam-macam pronomina:
      Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia, yakni (1)  pronominal persona, (2)  pronomina penunjuk  (3)  pronomina penanya.

1. Pronomina Persona
  • Pronomina reduplikasi, misalnya: kita-kita, dia-dia, dan beliau-beliau.
  • Pronomina berbentuk frasa, misalnya: kamu sekalian, aku ini, dia itu.
  • Pronomina takrif, terbatas pada pronomina persona (orang) misalnya:
  • Pronomina persona I (kata ganti orang I) : saya, aku (tunggal),
  • dan kami, kita (jamak)
  • Pronomina persona II (kata ganti orang II) : kamu, engkau, Anda (tunggal), dan kalian, Anda sekalian (jamak)
  • Pronomina persona III (kata ganti orang III) : ia, dia, beliau (tunggal), dan mereka (jamak)
  • Pronomina tak takrif, tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu, misalnya : sesuatu, seseorang, barang siapa, siapa, apa-apa, anu, dan masing-masing sendiri.
2. Pronomina Penunjuk
Pronomina Penunjuk dalam bahasa Indonesia ada tiga macam.
  • Pronomina penunjuk umum: ini, itu, dan anu.
  • Pronomina penunjuk tempat: sini, situ, atau sana.
  • Pronomina penunjuk ihwal: begini dan begitu.
Pronomina Penanya :
Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan.Contoh:  siapa, apa, mana, mengapa, kapan, dimana, bagaimana, dan berapa.
c. Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Numeralia utama (kardinal), terdiri atas:
  • Bilangan penuh, misalnya: satu, dua, tiga, puluh, ribu, juta.
  • Bilangan pecahan, misalnya: sepertiga, duapertiga, lima perenam.
  • Bilangan gugus, misalnya: selikur (21), lusin, gros, kodi, atau ton.
  • Numeralia tingkat, yaitu numeralia yang menunjukkan urutan atau struktur
Misalnya:  pertama, kesatu, kedua, keempat, ketiga belas.
 Numeralia kolektif, numeralia yang terbentuk oleh afiksasi, misalnya :  ketiga (ke + Num),
 ribuan, ratusan (Num + -an), beratus-ratus, dan bertahun-tahun (ber- + Num)

5.  Kelompok Kata Tugas
Kata tugas terdiri atas:
a. Kata Sandang (Artikel)
Kata sandang atau artikel adalah kata yang mendampingi kata benda atau yang
membatasi makna jumlah orang atau benda.
Macam-macam artikel:
a). Artikula/artikel bermakna tunggal, misalnya: sang guru, sang suami, sang juara.
b). Artikula/artikel bermakna jamak, misalnya: para petani, para guru, para ilmuwan.
c). Artikula/artikel bermakna netral, misalnya: si hitam manis, si dia, si terhukum.
d).Artikula/artikel bermakna khusus, misalnya: Sri Baginda, Sri Ratu, Sri Paus (gelar
     kehormatan),  Hang Tuah, dan Dang Halimah (panggilan pria dan wanita dalam sastra
     lama)
b. Kata Depan (Preposisi)
Kata depan atau preposisi adalah kata yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat, atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan(frasa preposisional).
Macam-macam preposisi:
a). Preposisi dasar, misalnya:  di , ke, dari, akan, antara, kecuali, bagi, dalam, daripada, tentang, pada, tanpa, untuk, demi, atas, depan, dekat.
b). Preposisi turunan, terdiri atas:
(a). gabungan preposisi dan preposisi, misalnya : di depan, ke belakang, dari muka.
(b). gabungan  preposisi + preposisi +  non-preposisi, misalnya : di atas rumah, dari
       tengah-tengah kerumunan.
(c). gabungan preposisi + kelas kata + preposisi + kelas kata, misalnya dari rumah ke
       jalan, dari Bogor sampai Jakarta, dari pagi hingga petang.
(d).  Preposisi yang menunjukkan ruang lingkup, misalnya sekeliling, sekitar, sepanjang,
      seputar.
c. Kata Hubung (Konjungsi)
Kata hubung atau konjungsi adalah kata yang  berfungsi menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
Macam-macam konjungsi:
  • Konjungsi penambahan, misalnya: dan, dan lagi, tambahan lagi, lagi pula.
  • Konjungsi urutan, misalnya: lalu, lantas, kemudian, setelah itu.
  • Konjungsi pilihan, misalnya: atau
  • Konjungsi perlawanan, misalnya:  tetapi, sedangkan, namun, sebaliknya, padahal.
  • Konjungsi menyatakan waktu, misalnya: ketika, sejak, saat, dan lain-lain
  • Konjungsi sebab-akibat, misalnya: sebab, karena, karena itu, akibatnya dan lain-lain
  • Konjungsi persyaratan, misalnya: asalkan, jikalau, kalau, dan lain-lain
  • Konjungsi pengandaian, misalnya: andaikata, andaikan, seandainya, seumpamanya.
  • Konjungsi harapan/tujuan, misalnya: agar, supaya, hingga.
  • Konjungsi perluasan, misalnya: yang
  • Konjungsi pengantar objek, misalnya: bahwa
  • Konjungsi penegasan, misalnya: bahkan dan malahan
  • Konjungsi pengantar wacana, misalnya: adapun, maka, jadi.
d. Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai,mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi.
Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah dan pernyataan (berita).
Macam-macam partikel:
a).  kah, misalnya: Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
b).  kan, misalnya: Tadi kan sudah dikasih tahu!
c).  deh, misalnya: Makan deh, jangan malu-malu.
d).  lah, misalnya: Tidurlah hari sudah malam!
e).  dong, misalnya: Bagi dong kuenya.
f).  kek, misalnya: cepetan kek, lama sekali.
g).  pun, misalnya:  Membaca pun ia tak bisa.
h).  toh, misalnya: Saya toh tidak merasa bersalah.
FRASA

Frasa adalah bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi atau jabatan di dalam kalimat.Di dalam kalimat terdapat subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (K), dan pelengkap (pel).
Contoh :
-   Dokter membaca buku.
                     S        P              O
-   Dokter muda  sedang membaca  buku cerita.
                  S            P                            O
-   Dokter muda ganteng sedang asyik membaca buku cerita komik.
                     S                                P                                O
Frasa dibedakan atas:
1. Frasa nominal: frasa yang unsur pusatnya kata benda.
Contoh :    -  kamar anak
                        -  buku gambar
2. Frasa  verbal: frasa yang unsur pusatnya kata kerja.
Contoh :    -  sedang tidur
                        -  telah belajar
3. Frasa  adjektival: frasa yang unsur pusatnya kata sifat.
Contoh:    -  cukup pintar
                       -  agak lambat
4. Frasa  adverbial: frasa yang unsur pusatnya kata keterangan.
Contoh:   -  pagi sekali
                     -  sangat tekun
5. Frasa  preposisional (kata depan): frasa yang terdiri dari unsur kata depan dan kata benda.
Contoh:     -  di kota
                        -  dari kantor - See more at: http://deden-arpega.blogspot.com/2013/09/jenis-jenis-kata-dalam-bahasa-indonesia.html#sthash.orXqJOSj.dpuf

Teknik Membaca

Macam-Macam Teknik Membaca
 Macam-macam teknik membaca

 Macam-macam teknik membaca menurut para ahli :
Jenis-jenis Membaca Menurut Prastiti (2006: 20) : Berdasarkan tujuan atau maksudnya, membaca dibagi menjadi beberapa jenis antara lain membaca intensif, membaca teknik, membaca cepat, membaca kritis, dan membaca indah. Kelima jenis membaca tersebut dijelaskan pada penjabaran berikut ini.
a. Membaca Intensif/Membaca Pemahaman Membaca jenis ini sering juga disebut membaca pemahaman yang sangat memerlukan kecermatan dan ketajaman berpikir. Membaca intensif merupakan kunci memperoleh ilmu pengetahuan. Membaca intensif adalah perbuatan membaca yang dilakukan dengan hati-hati dan teliti. Membaca jenis ini sangat diperlukan jika ingin mendalami suatu ilmu secara detail, ingin mengetahui isi suatu materi, bahan-bahan yang sukar dan lain-lain.
 b. Membaca Teknik Membaca teknik adalah salah satu jenis membaca yang menitikberatkan pada pelafalan kata-kata baku, melagukan kalimat dengan benar, pemenggalan kelompok kata dan kalimat dengan tepat, menyesuaikan nada, irama, dan tekanan, kelancaran dan kewajaran membaca serta jauh dari ketersendatan, kesalahan ucap atau cacat baca lain. Membaca teknik dilaksanakan dengan bersuara. Oleh karena itu, membaca jenis ini memiliki manfaat ganda baik pembaca maupun orang lain.
c. Membaca Cepat Membaca jenis ini dilakukan jika pembaca ingin memperoleh gagasan pokok wacana dalam waktu relatif singkat, tetapi juga mendapat hasil bacaan yang banyak. Dua faktor yang tidak dapat diabaikan pada jenis membaca ini adalah kecepatan dan ketepatan. Hal-hal yang dapat menghambat cara membaca cepat harus dihindari seperti regresi, vokalisasi, membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan lain-lain.
 d. Membaca Kritis Membaca kritis adalah salah satu jenis membaca yang bertujuan untuk mengetahui fakta-fakta dalam bacaan, kemudian menganalisisnya. Membaca jenis ini dilakukan secara bijak, mendalam, evaluatif, dan analisis sebagai kunci membaca jenis ini. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa membaca kritis tidak hanya sekedar fakta yang tersurat, tetapi juga tersirat menemukan alasan mengapa penulis menyatakan hal tersebut. Membaca kritis memerlukan berbagai keterampilan, meliputi mencari isi wacana, menganalisis dan menilai gagasan yang terdapat dalam bacaan.
 e. Membaca Indah Pada hakikatnya membaca indah merupakan usaha menghidupkan dan untuk mengomunikasikan suatu bahan bacaan yang mempunyai nilai sastra dengan mengutamakan segi keindahan dalam penyampaiannya. Membaca yang indah erat sekali hubungannya dengan keterampilan membaca karya sastra. Membaca jenis ini menitikberatkan pada pengungkapan segi keindahan yang terdapat pada suatu karya sastra. Alur suaranya hendaknya jatuh pada gagasan-gagasan, sebagaimana layaknya orang bicara. Gerak dan mimik sejalan dengan pokok gagasan yang terkandung dalam teks agar apa yang dibaca dapat dipahami oleh pendengar. Tarigan (2008: 12-13).
Tarigan membedakan kegiatan membaca dalam jenis membaca bersuara atau membaca nyaring (oral reading atau reading aloud) dan membaca dalam hati (silent reading). Membaca bersuara atau membaca nyaring dipandang tepat untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam keterampilan mekanis seperti pengenalan bentuk huruf dan unsur-unsur linguistik. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan yang bersifat pemahaman maka yang paling tepat adalah membaca dalam hati. Kedua macam membaca menurut Tarigan di atas mempunyai fungsi masing-masing. Membaca nyaring adalah suatu aktivitas yang berfungsi sebagai alat bagi guru, murid, atau pun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang. Membaca dalam hati hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory) yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Dalam hal ini, pembaca tidak menggunakan alat ucap sehingga hanya otak dan mata yang bekerja. Dalam garis besarnya, membaca dalam hati dibagi atas membaca ekstensif dan intensif. Membaca ekstensif adalah membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin dalam waktu yang sesingkat mungkin (Tarigan, 2008: 31). Membaca ekstensif meliputi membaca survei (survey reading), membaca sekilas (skimming reading), dan membaca dangkal (superficial reading). Membaca intensif adalah studi seksama, telaah secara teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira sampai empat halaman setiap hari (Tarigan, 2008: 35). Membaca intensif terbagi menjadi membaca telaah isi (content study reading) dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi dibagi menjadi membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide, sedangkan membaca telaah bahasa meliputi kegiatan membaca bahasa dan membaca sastra.

Jenis-jenis membaca menurut Praptanti (2000: 39) adalah sebagai berikut:
Membaca pemahaman (intensif) adalah membaca pemahaman yang dianggap sebagai salah satu kunci pemerolehan ilmu karena titik tekannya adalah persoalan pemahaman yang mendalam, pemahaman ide-ide naskah dari ide-ide pokok sampai ide penjelas. Begitu juga dari hal-hal yang global ke hal-hal yang rinci. Jadi membaca pemahaman adalah aktivitas membaca yang ditempuh dengan sangat teliti, biasanya agak lambat, dengan tujuan memahami keseluruhan isi bacaan kedalam-dalamnya agar pesan yang disampaikan lebih merasuk ke otak dan hati. Membaca kritis yaitu aktivitas membaca yang menghendaki sikap atau reaksi si pembaca untuk memberi tanggapan terhadap apa yang telah dibacanya. Dalam hal ini pembaca dapat bersikap menolak, menyetujui sebagai pengganti, menerima sebagai bahan pelengkap atau menerima sebagai bahan penguat. Membaca cepat yaitu suatu aktivitas membaca yang bertujuan agar dalam waktu yang relatif singkat bisa mendapatkan hasil yang banyak. Membaca apresiatif dan membaca estetis adalah dua kegiatan membaca yang agak bersifat khusus karena lebih berhubungan dengan nilai-nilai dan faktor perasaan. Objek kajiannya terutama karya sastra serta bacaan-bacaan lain yang ditulis dengan bahasa yang indah. Membaca teknik adalah suatu aktivitas membaca yang termasuk kegiatan membaca bersuara. Membaca jenis ini bertujuan untuk lebih pemahaman memudahkan pemahaman materi yang dibaca. Membaca teknik penekanannya pada lafal, jeda lagu dan intonasi yang tepat. Denny Iskandar (2010). Klaisifikasi jenis membaca dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, misalnya dari: sasaran pembacanya, cara membaca, cakupan bahan, tujuan, jenis/ragam tulisan, dan lain-lain.
1) Berdasarkan sasaran pembacanya: Membaca permulaan Membaca lanjut
2) Berdasarkan cara membaca (terdengar-tidaknya suara): Membaca nyaring (oral reading/aloud reading) Membaca dalam hati (silent reading)
3) Berdasarkan cakupan bahan, baik jenis maupun lingkup bahan bacaannya terbagi ke dalam dua macam, yakni membaca intensif dan membaca ekstensif. Membaca intensif, meliputi: membaca telaah isi (content study reading) dan membaca telaah bahasa (linguistic study reading).
Membaca telaah isi terbagi lagi ke dalam:
(a) membaca teliti (close reading),
(b) pembaca pemahaman (understanding reading), membaca kritis (critical reading), dan membaca ide (reading for ideas).
Membaca bahasa terbagi lagi ke dalam
(a) membaca bahasa dan
(b) membaca sastra.
Membaca ekstensif, meliputi:
membaca survei (survei reading)
membaca sekilas (skimming)
dan membaca dangkal (superficial reading).
4) Berdasarkan klasifikasi tujuan baca:
Membaca untuk tujuan behavioral/tertutup/instruksional
Membaca untuk tujuan ekspresif/terbuka
5) Berdasarkan tingkatan tujuan:
Membaca dasar (elementary reading)
Membaca tinjauan (inspectional reading)
Membaca analitis (analytical reading)
Membaca membandingkan (syntopical reading)
6) Berdasarkan teknik menemukan informasi fokus:
Baca-pilih (selecting)
Baca-lompat (skipping)
Baca-layap (skimming)
Baca-tatap (scanning)
Macam-Macam teknik membaca :
A. Membaca cepat Teknik membaca cepat dapat digunakan sebagai salah satu cara belajar efektif. Membaca cepat merupakan teknik membaca dengan memindahkan padangan mata secara cepat, kata demi kata, frase demi frase, atau baris demi baris. Teknik membaca cepat bertujuan agar pembaca dapat memahami bacaan dengan cepat.
Cara membaca cepat:
1. Konsentrasi saat membaca.
2. Menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara dan bibir bergerak.
 3. Perluas jangkauan mata ketika membaca.
4. Tidak mengulang-ulang bacaan. Dalam teknik membaca cepat, digunakan rumus untuk menghitung kecepatan membaca. Rumus tersebut adalah: KB : Jumlah kata dalam bacaan x 100% Waktu yang ditempuh Keterangan: KB = Kecepatan Membaca
 B. Membaca Sekilas Membaca sekilas (skimming) biasa dilakukan ketika membaca koran atau bacaan-bacaan ringan lainnya. Teknik membaca ini dilakukan dengan tujuan agar dapat menemukan infromasi yang diperlukan. Ketika membaca koran, tidak semua informasi dalam koran perlu dibaca, hanya hal-hal yang dianggap penting sudah mewakili informasi yang ingin diketahui. Membaca sekilas adalah teknik membaca yang dilakukan sekilas pada bagian-bagian teks, terutama judul, daftar isi, kata pengantar. indeks atau hal umum lainnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca sekilas adalah sebagai berikut:
1. jika membaca koran, bacalah setiap judul bacaan dalam koran tersebut,
2. baca garis besar bacaan atau kepala berita yang terdapat pada koran tersebut, dan
3. jika telah telah menemukan bacaan yang diinginkan, mulai untuk membacanya.
 C. Membaca Memindai Membaca memindai disebut juga membaca scanning, yaitu teknik membaca yang digunakan untuk mendapatkan informasi tanpa membaca yang lain. Melainkan langsung pada masalah yang diperlukan. Teknik membaca memindai, biasanya dilakukan ketika mencari nomor telepon, mencari arti kata atau istilah di kamus, dan mencari informasi di ensiklopedia.
 D. Membaca Intensif Membaca intensif adalah teknik membaca yan dapat diterapkan dalam upaya mencari informasi yang bersifat detail. Membaca intensif juga dapat diterapkan untuk mencari informasi sebagai bahan diskusi. Membaca intensif, disebut juga membaca secara cermat. Membaca dengan cermat akan memperoleh sebuah pokok persoalan atau perihal menarik dari suatu teks bacaan untuk dijadikan bahan diskusi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membaca intensif adalah sebagai berikut:
1. membaca dengan jeli sehingga dapat menentukan hal yang paling menarik dari hal-hal lain,
2. mempertimbangkan kemampuan diri dal kemampuan teman diskusi berkenaan dengan kemampuan diri menguasai atau memahami perihal yang akan didiskusikan
3. mempertimbangkan referensi yang dimiliki oleh peserta diskusi terkait hal yang akan didiskusikan.
 E. Membaca Ekstensif Membaca ekstensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara tidak begitu detail. Kegiatan membaca ekstensif ditujukan untuk mendapatkan informasi yang bersifat pokok-pokok penting dan bukan hal yang sifatnya terperinci. Berdasarkan informasi pokok tersebut, kita sudah dapat melihat atau menarik kesimpulan mengenai pokok bahasan atau masalah utama yang dibicarakan. Membaca ekstensif dapat digunakan ketika membaca beberapa teks yang memiliki masalah utama sama. Kita dapat menarik kesimpulan mengenai teks yang memiliki masalah utama yang sama, meskipun pembahasan detailnya berbeda.
 Hal-hal yang harus diperhatikan ketika membaca ekstensif dua teks:
1. membaca kedua teks secara keseluruhan, sehingga mendapatkan pemahaman terhadap kedua isi teks,
2. memahami pokok-pokok penting yang disampaikan dalam masing-masing teks,
3. membandingkan kedua teks, sehingga memperoleh gambaran adanya persamaan dan perbedaannya, dan 4. menarik kesimpulan mengenai masalah utama kedua teks.